Balai Adat Kaharingan Di Desa Bundar Perlu Perhatian Pemerintah   | BarselNews

Balai Adat Kaharingan Di Desa Bundar Perlu Perhatian Pemerintah  

Barselnews, Buntok- Balai Adat Kaharingan yang berada di desa Bundar, Kecamatan Dusun Utara, Barito Selatan (Barsel), perlu perhatian serius dari Pemerintah, karena mengalami kerusakan yang cukup parah.

Pantauan Barselnews, kerusakan mulai dari atap plafon, dinding, Balai pisame (sejenis dapur), Balai hakei, (rumahan kecil untuk umat muslim) dan lantainya mulai berlubang.

“Kerusakan sarana ritual umat Kaharingan tersebut, lantaran telah dimakan usia. Dengan kondisi itu, diperlukan perhatian pemerintah untuk melakukan perehaban,” kata Penghulu Adat Bundar Darlen M Linda kepada Barselnews. Minggu (6/1/2018).

Ia menceritakan, Balai Adat ini dibangun sekitar tahun 1962 silam. Dan merupakan sarana ritual persebaran Balai Adat Kaharingan dari Paju Epat Barito Timur.

Balai adat ini juga lanjut dia, dipergunakan beberapa desa di Kecamatan Dusun Utara untuk mengadakan ritual atau acara adat lainnya, desa-desa tersebut yakni  Talekoi, Hingan, Maruga, Danau Bamore, Tamparak, Majunre, Ulu Tampang dan Panarukan.

“Sebenarnya  Balai ini telah direnovasi kurang lebih 15 tahun yang lalu. Namun semenjak itu, tidak pernah ada perbaikan lagi. Entah mengapa, kita kurang jelas penyebabnya padahal kami sudah beberapa kali mengusulkan perehaban namun sampai sekarang masih belum ada tanggapan,” bebernya.

Menurutnya, beberapa waktu yang lalu pihaknya mengambil inisiatif membentuk panitia pencari dana untuk perehaban. Dengan menggelar berbagai ritual.

Namun ironisnya  kegiatan berakhir, dana yang diperoleh berakhir pula. Sehingga rencana tersebut hanya tingga rencana dan tidak berkesampaian hingga saat ini.

“Sangat disayangkan dana yang didapatkan berkisar antara Rp 9-10 juta hilang entah kemana, sampai pembubaran kepanitiaan pencari dana tersebut dananya malah tidak ada,” sesal dia.

Sementara itu, Damang Dusun Utara Sensus, mengaku prihatin melihat kondisi balai adat kaharingan sekarang ini.

“Saya merasa sedih melihat sepertinya tidak ada perhatian pihak yang berkewenangan terhadap nilai-nilai budaya ini,” ucapnya.

Ia berharap, pada tahun ini pemerintah daerah akan membantu untuk mengadakan perehabannya, sehingga sesuai dengan harapan masyarakat Kaharingan, khususnya warga desa Bundar dan sekitarnya dapat menjadi kenyataan. (UR/A2).




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *